PEMBELAJARAN MEMBACA DI SEKOLAH
DASAR
Ditulis
untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia 1
Oleh
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN GURU
SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA
2012
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Kurikulum mengamanatkan agar pembelajaran
Bahasa Indonesia di sekolah diselenggarakan secara lebih bermakna. Melalui
pembelajaran Bahasa Indonesia, siswa memperoleh keahlian praktis untuk
berkomunikasi, yakni membaca, menulis, berbicara, dan menyimak dalam berbagai ranah berbahasa.
Untuk itu, corak pembelajarannya harus lebih diwarnai dengan kegiatan
berbahasa. Demikian pula dalam pembelajaran membaca di sekolah dasar, siswa
harus lebih banyak dihadapkan dengan berbagai ragam bacaan. Ketidakmampuan
siswa membaca akan berakibat rendahnya prestasi belajarnya. Hal ini dapat
terjadi karena apabila siswa tersebut tidak mampu membaca, maka siswa tersebut
tidak akan dapat memahami isi materi pelajaran tersebut, sehingga prestasi
belajarnya pun akan rendah.
Prestasi belajar siswa dimungkinkan
dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah minat dan keaktifan siswa
membaca. Siswa yang mempunyai minat membaca tinggi, dimungkinkan akan
memperoleh prestasi belajar yang tinggi. Siswa dengan minat baca tinggi, dengan
sendirinya akan timbul kesadaran untuk belajar serta mengisi waktu luangnya
dengan membaca buku, baik buku pelajaran maupun buku lain yang masih
berhubungan dengan pelajaran sehingga mereka akan memiliki pengetahuan lebih
jika dibandingkan dengan siswa lain yang memiliki minat baca rendah. Begitu
juga apabila minat membacanya rendah, akan membawa hasil yang rendah pula.
Siswa yang memiliki minat baca rendah hanya akan mengandalkan apa yang
diberikan guru disekolah. Seorang siswa yang memiliki kegemaran membaca akan
nampak lebih dewasa daripada teman sebayanya. Siswa tersebut akan lebih dewasa
dalam hal bergaul dan berpikir. Dia akan tumbuh menjadi pribadi yang utuh
karena lebih tahan menghadapi berbagai tantangan. Hal itu terjadi karena daya
kritis, kepekaan ilmiah, dan kepekaan sosial siswa akan berkembang sesuai
dengan potensinya sebagai konsekuensi logis dari besarnya wawasan yang ditimba
dari kegiatan membaca. Melalui kegiatan membaca seseorang dapat menambah
informasi dan memperluas ilmu pengetahuan. Sehingga membuat orang menjadi
cerdas, kritis dan mempunyai daya analisa yang tinggi. Melalui kegiatan membaca
juga selalu tersedia waktu untuk merenung, berfikir dan mengembangkan
kreativitas berfikir.
Selanjutnya, mereka dapat
berkomunikasi dengan gagasan yang dituangkan dalam bahasa tulis tersebut.
Berbagai keterampilan membaca harus dilatihkan kepada mereka agar kepemilikan
keterampilan itu bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Mengingat betapa pentingnya
keterampilan membaca dimiliki oleh siswa, maka guru di sekolah
dasar perlu memiliki kompetensi yang memadai tentang substansi membaca dan
kemampuan mengelola pembelajaran keterampilan membaca.
B. Rumusan
Masalah
1. Apakah pengertian membaca?
2. Apakah prinsip-prinsip
membaca?
3. Apakah
tujuan membaca?
4. Apa sajakah
komponen kegiatan membaca?
5. Apa sajakah faktor-faktor yang mempengaruhi
kemampuan membaca?
6. Apa sajakah strategi-strategi pemahaman bacaan?
7. Apa sajakah
teknik-teknik membaca?
8. Apa sajakah
usaha-usaha untuk meningkatkan kegemaran membaca?
C. Tujuan
Penulisan
1.
Ingin
menjelaskan pengertian membaca
2.
Ingin menjelaskan
prinsip-prinsip
membaca
3.
Ingin
menjelaskan tujuan membaca
4.
Ingin
menjelaskan komponen kegiatan membaca
5.
Ingin
menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca
6.
Ingin
menjelaskan strategi-strategi pemahaman bacaan
7.
Ingin
menjelaskan teknik-teknik membaca
8.
Ingin
menjelaskan usaha-usaha untuk meningkatkan kegemaran membaca
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Membaca
Membaca
adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk
memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media
kata-kata/bahasa tulis (H.G. Tarigan, 1986:7). Sedangkan membaca merupakan
kegiatan merespons lambang-lambang tertulis dengan menggunakan pengertian yang
tepat (Ahmad S. Harjasujana dalam St.Y. Slamet, 2008:67). Membaca pada hakikatnya adalah suatu yang rumit yang melibatkan
banyak hal, tidak hanya sekadar melafalkan tulisan tetapi melibatkan aktivitas
visual, bepikir, psikolinguistik, dan metakognitif.
Tiga
istilah yang sering digunakan untuk memberikan dasar dari proses membaca, yaitu
recording, decoding, dan meaning. Recording merujuk pada kata- kata dan kalimat, kemudian
mengasosialisasikannya dengan bunyi- bunyi sesuai dengan sistem tulisan yang
digunakan,sedangkan proses decoding (penyandian) merujuk pada proses penerjemahan
rangkaian grafis ke dalam kata-kata. Proses recording dan decoding biasanya
berlangsung pada kelas-kelas awal, yaitu SD kelas (I,II,III) yang dikenal dengan
istilah membaca permulaan. Penekanan membaca pada tahap ini ialah proses
perseptual, yaitu pengenalan korespodensi rangkaian huruf dengan bunyi-bunyi
bahasa. Sementara itu proses memahami makna (meaning) lebih ditekankan di
kelas- kelas tinggi SD (Syafi’ie,1999).
Membaca
adalah interaktif. Keterlibatan pembaca dengan teks tergantung pada konteks.
Orang yang senang membaca suatu teks yang bermanfaat, akan menemui beberapa
tujuan yang akan dicapainya, teks yang dibaca seseorang harus mudah dipahami (readable)
sehingga terjadi interaksi antara pembaca dan teks.
B. Prinsip-Prinsip Membaca
Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa
banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan membaca. Menurut McLaughlin
&Allen (2002), prinsip-prinsip membaca yang didasarkan pada penelitian yang
paling memengaruhi pemahaman membaca ialah:
1. Pemahaman
merupakan proses konstruksi sosial.
Menurut
Cox (1999) anak-anak terus-menerus membangun makna baru pada dasar pengetahuan
sebelumnya yang mereka miliki untuk memproses komunikasi. Sebagai metafor untuk
belajar bahasa, maksud konstruktivisme ialah pemakai bahasa adalah pembangun
makna, apa yang mereka bangun dan pengetahuan sebelumnya adalah bahan untuk
membangun makna (Spivey dalam Cox, 1999).
2. Keseimbangan
kemahiraksaraan merupakan kerangka kerja yang membantu perkembangan pemahaman.
Keseimbangan kemahiraksaraan
merupakan kerangka kerja kurikulum yang memberikan kedudukan yang sama antara
membaca dan menulis serta mengenal pentingnya dimensi kognitif dan afektif kemahiraksaraan.
3. Guru membaca
yang unggul memengaruhi belajar siswa.
Guru
yang unggul sadar apa yang dikerjakan dengan baik dan apa yang dibutuhkan siswa
untuk berhasil. Guru yang unggul mengetahui pentingnya setiap siswa memiliki
pengalaman kemahiraksaan. Guru yang ahli ialah guru yang yang membuat perbedaan
pada keberhasilan siswa. Peranan guru dalam proses membaca, antara lain
menciptakan pengalaman yang memperkenalkan, memelihara, atau memperluas
kemampuan siswa untuk memahami teks.
4. Pembaca
yang baik memegang peranan yang strategis dan berperan aktif dalam proses
membaca.
Melalui
suatu proses menilai diri sendiri dan perbaikan yang terus-menerus, siswa harus
belajar mengontrol belajar mereka sendiri. Karena penekanan pada proaktif dan
bertanggung jawab, kemahiraksaraan mata pelajaran menjadi alat yang bermakna
bagi siswa. Siswa yang mempunyai sikap positif terhadap belajar mereka sendiri
dengan sendirinya juga menjadi pembaca yang baik.
5.
Membaca hendaknya terjadi dalam konteks
yang bermakna.
Siswa
perlu setiap hari mengakrabi teks dalam berbagai tingkat kesukaran. Ketika
tingkat teks yang sedang digunakan maka guru membantu siswa meningkatkan
pengalaman belajar dan siswa menerima berbagai tingkat dukungan, tergantung
pada tujuan dan setting pengajaran.
6. Siswa
menemukan manfaat dari bertransaksi dengan berbagai teks pada berbagai tingkat.
Bertransaksi dengan berbagai jenis
materi bacaan akan meningkatkan pemahaman siswa. Pengalaman membaca berbagai
jenis materi bacaan memberikan siswa pengetahuan sejumlah struktur teks dan
meningkatkan proses memahami suatu teks.
7.
Perkembangan kosakata dan pengajaran
memengaruhi pemahaman membaca.
Menurut Bauman dan Kameenui (dalam
McLaughlin & Allen, 2001) menyarankan bahwa pengajaran kosakata secara langsung
dan belajar dari konteks sebaiknya seimbang. Pengajaran sebaiknya bermakna bagi
siswa, mencakup kata-kata dari bacaan siswa dan memfokuskan pada berbagai
strategi untuk menentukan makna kata-kata yang tidak dikenal siswa.
8. Pengikutsertaan
merupakan faktor kunci dalam proses pemahaman.
Menurut
Baker dan Wigfield dalam McLaughlin & Allen, 2002) menjelaskan bahwa
keterlibatan pembaca termotivasi untuk membaca dengan berbagai tujuan,
memanfaatkan pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya untuk
membangkitkan pemahaman baru serta berpartisipasi dalam interaksi sosial yang
bermakna tentang bahan bacaan.
9. Strategi
dan keterampilan pemahaman bisa diajarkan.
Penelitian terakhir mendemokrasikan
bahwa ketika siswa mengalami strategi pengajaran pemahaman langsung, strategi
tersebut meningkatkan pemahaman teks tentang topik baru.
10. Asesmen
dinamis menginformasikan pengajaran pemahaman.
Asesmen
merupakan koleksi data, seperti nilai tes dan catatan-catatan informal untuk
mengukur hasil belajar siswa, sedangkan evaluasi adalah intrepretasi dan
analisis dari data. Asesmen ini mencakup membantu meningkatkan pengalaman
belajar siswa yang mempunyai berbagai
tingkat dukungan guru.
C. Tujuan Membaca
Membaca hendaknya mempunyai tujuan, yaitu:
1. Kesenangan
2. Menyempurnakan
membaca nyaring
3. Memperbaharui
pengetahuannya tentang suatu topik
4. Mengaitkan
informasi baru dengan informasi yang telah diketahuinya
5. Memperoleh
informasi untuk laporan lisan atau tertulis
6. Mengkonfirmasikan
atau menolak prediksi
7. Menampilkan
suatu eksperimen atau mengaplikasikan informasi yang diperoleh dari suatu teks
dalam beberapa cara lain dan mempelajari tentang struktur teks
8. Menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang spesifik (Blanton, dkk dan Irwin dalam Burns dkk,
dalam Farida Rahim, 2007: 11).
Selain beberapa
tujuan membaca yang telah disampaikan di atas, terdapat pula beberapa tujuan
membaca lainnya yang erat kaitannya dengan makna, diantaranya:
a. Membaca
untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta.
b. Membaca
untuk memperoleh ide-ide utama.
c. Membaca
untuk mengetahuai urutan atau susunan, organisasi cerita.
d.
Membaca untuk menyimpulkan.
e. Membaca
untuk mengelompokkan atau mengklasifikasikan.
f.
Membaca untuk menilai atau mengevaluasi.
g. Membaca
untuk memperbandingkan atau mempertentangkan.
D.
Komponen
Kegiatan Membaca
Pada
dasarnya komponen kegiatan membaca
terdiri atas dua bagian, yaitu proses membaca dan produk membaca. Berikut
penjelasan lebih lanjut tentang proses membaca dan produk membaca.
1.
Proses Membaca
Pada saat proses membaca, meliputi sejumlah
kegiatan fisik dan mental, yang terdiri dari sembilan aspek yaitu sensori,
perceptual, urutan, pengalaman, pikiran, pembelajaran, asosiasi, sikap dan
gagasan. Proses membaca ini
dimulai dengan sensori visual yang diperoleh melalui pengungkapan simbol-simbol
grafis dan indra penglihatan. Dari sini anak-anak belajar membedakan secara
visual diantara simbol-simbol grafis (huruf atau kata) yang digunakan untuk mempresentasikan
bahasa lisan. Selanjutnya adalah tindakan perceptual, yaitu aktivitas mengenal
suatu kata sampai pada maknanya berdasarkan pengalaman yang diperoleh.
Pengalaman merupakan aspek penting dalam
proses membaca. Karena dengan sering membaca anak-anak memiliki pengalaman yang
luas dalam memahami berbagai kosa kata dan konsep. Dalam aktivitas membaca
terdapat proses berfikir untuk dapat memahami bacaan dengan syarat pembaca
terlebih dahulu memahami kata-kata dan kalimat yang dihadapinya melalui proses
asosiasi dan eksperimental. Kemudian membuat simpulan dengan cara mengaitkan isi
preposisi yang terdapat dalam materi bacaan. Agar siswa mampu memahami materi
bacaan, maka ia harus mampu berfikir secara sistematis, logis dan kreatif.
Sehingga nantinya dapat meningkatkan kemampuan berfikir melalui bahan bacaan
yang telah dibaca. Mengenal hubungan antara simbol dengan bunyi bahasa dan makna
adalah bagian dari aspek asosiasi dalam membaca. Anak-anak belajar
menghubungkan simbol-simbol grafis dengan bunyi bahasa dan makna. Tanpa kedua
kemampuan asosiasi tersebut siswa tidak mungkin dapat memahami sebuah teks. Pada
aspek afektif ini merupakan proses membaca yang berkaitan dengan kegiatan
memusatkan perhatian, membangkitkan kegemaran membaca (sesuai dengan minatnya),
dan menumbuhkan motivasi membaca ketika sedang membaca. Pemusatan perhatian, kesenangan,
dan motivasi yang tinggi merupakan hal yang diperlukan dalam membaca. Tanpa
adanya perhatian yang penuh ketika membaca, maka siswa akan sulit memahami
suatu bacaan. Aspek ke sembilan ialah aspek pemberian gagasan. Aspek ini dimulai
dari penggunaan sensori dan perceptual dengan latar belakang pengalaman dan
tanggapan afektif serta membangun makna teks yang dibaca oleh siswa. Tidak
semua makna bisa dibangun berdasarkan pada teks yang dibaca melainkan bisa dari
faktor latar belakang pengalaman pembaca. Pembaca dengan latar belakang
pengalaman yang berbeda dan reaksi afektif yang berbeda akan menghasilkan makna
yang berbeda dari teks yang sama.
2. Produk
Membaca
Produk
membaca merupakan komunikasi dari pemikiran dan emosi antar penulis dan pembaca.
Komunikasi juga bisa terjadi dari konstruksi pembaca melalui integrasi
pengetahuan yang telah dimiliki pembaca dengan informasi yang disajikan dalam
teks.
Pemahaman
terhadap bacaan sangat bergantung pada semua aspek yang terlibat dalam proses
membaca. Di samping kemampuan yang dituntut dalam melaksanakan kegiatan,
berbagai aspek proses membaca pun harus dipenuhi oleh pembaca. Aspek kesembilan
(aspek gagasan) akan diperoleh apabila aspek-aspek proses membaca yang lain
telah bekerja secara harmonis.
E. Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Kemampuan Membaca
Banyak faktor yang mempengaruhi
kemampuan membaca, baik membaca permulaan maupun membaca lanjut (membaca
pemahaman). Faktor-faktor yang mempengaruhi membaca permulaan menurut Lamb dan
Arnold (1976) ialah:
1. Faktor Fisiologis
Faktor ini mencakup kesehatan fisik,
pertimbangan neurologis, dan jenis kelamin. Beberapa ahli
mengemukakan bahwa keterbatasan neurologis (misalnya berbagai cacat otak) dan
kekurangmatangan secara fisik merupakan salah satu faktor yang dapat
menyebabkan anak gagal dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman
mereka.
Gangguan pada alat bicara, alat pendengaran, dan
alat penglihatan bisa memperlambat kemajuan belajar membaca anak. Analisis
bunyi, misalnya, mungkin sukar bagi anak yang mempunyai masalah pada alat
bicara dan pendengaran.
2.
Faktor
Intelektual
Istilah intelegensi didefinisikan oleh Heinz sebagai
suatu kegiatan berpikir yang terdiri dari pemahaman yang esensial tentang
situasi yang diberikan dan meresponnya secara tepat (Page dkk., 1980). Terkait
dengan penjelasan Heinz di atas, Wechster (dalam Harris dan Sipay, 1980)
mengemukakan bahwa intelegensi ialah kemampuan global individu untuk bertindak
sesuai dengan tujuan, berpikir rasional, dan berbuat secara efektif terhadap
lingkungan.
Peneliti Ehansky (1963) dan Muehl dan Forrel
(1973) yang dikutip oleh Harris dan Sipay (1980) menunjukkan bahwa secara umum
ada hubungan positif (tetapi rendah) antara keceradasan yang diindikasikan oleh
IQ dengan rata-rata peningkatan remedial membaca. Pendapat ini sesuai dengan
yang dikemukakan oleh Rubin (1993) bahwa banyak hasil penelitian memperlihatkan
tidak semua siswa yang mempunyai kemampuan intelegensi tinggi untuk menjadi
pembaca yang baik. Secara umum, intelegensi anak tidak sepenuhnya mempengaruhi
berhasil tidaknya anak dalam membaca permulaan.
3. Faktor Lingkungan
Faktor
lingkungan juga mempengaruhi kemajuan kemampuan membaca anak. Faktor lingkungan
mencakup latar belakang dan pengalaman siswa di rumah dan sosial ekonomi keluarga.
Lingkungan
dapat membentuk pribadi, sikap, nilai, dan kemampuan bahasa anak. Kondisi di
rumah mempengaruhi pribadi dan penyesuaian diri anak dalam masyarakat. Kondisi
itu pada gilirannya dapat membantu anak, dan dapat juga menghalangi anak belajar
membaca. Anak yang tinggal di dalam rumah tangga yang harmonis, rumah yang
penuh dengan cinta kasih, yang orang tuanya memahami anak-anaknya, dan
mempersiapkan mereka dengan dengan rasa harga diri yang tinggi, tidak akan
menemukan kendala yang berarti dalam membaca.
Rubin
(1993) mengemukakan bahwa orang tua yang hangat, demokratis, bisa mengarahkan
anak-anak mereka pada kegiatan yang berorientasi pendidikan, suka menantang
anak untuk berpikir, dan suka mendorong anak untuk mandiri merupakan orang tua
yang memiliki sikap yang dibutuhkan anak sebagai persiapan yang baik untuk
belajar di sekolah. Disamping itu, komposisi orang dewasa dalam lingkungan
rumah juga berpengaruh pada kemampuan membaca anak.
Kualitas
dan luasnya pengalaman anak di rumah juga penting bagi kemajuan belajar
membaca. Membaca seharusnya merupakan suatu kegiatan yang bermakna. Pengalaman
masa lalu anak-anak memungkinkan mereka untuk lebih memahami apa yang mereka
baca.
Ada
kecenderungan orang tua kelas menengah ke atas merasa bahwa anak-anak mereka
siap lebih awal dalam membaca permulaan. Namun, usaha orang tua hendaknya tidak
berhenti hanya sampai pada membaca permulaan saja. Orang tua harus melanjutkan
kegiatan membaca anak secara terus menerus. Faktor sosial ekonomi, orang tua,
dan lingkungan tetangga merupakan faktor yang membentuk lingkungan rumah siswa.
Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa status sosial ekonomi siswa
mempengaruhi kemampuan verbal siswa. Semakin tinggi status sosial ekonomi siswa
semakin tinggi kemampuan verbal siswa.
Anak-anak
yang berasal dari rumah yang memberikan banyak kesempatan membaca, dalam
lingkungan yang penuh dengan bahan bacaan yang beragam, akan mempunyai
kemampuan membaca yang tinggi (Crawley dan Mountain, 1995).
4. Faktor Psikologis
Faktor
lain yang juga mempengaruhi kemajuan kemampuan membaca anak adalah faktor
psikologis. Faktor ini mencakup motivasi, minat, dan kematangan sosial, emosi,
dan penyesuaian diri.
a. Motivasi
Depdiknas
(2003) mengemukakan beberapa prinsip motivasi dalam belajar membaca:
1) Kebermaknaan
2) Pengetahuan dan keterampilan prasyarat
3) Model
4) Komunikasi terbuka
5) Keaslian dan tugas yang menantang, latihan yang
tepat dan efektif
6) Kondisi dan konsekuensi yang menyenangkan
7) Keragaman pendekatan
8) Mengembangkan beberapa kemampuan
9) Melibatkan sebanyak mungkin indera
b. Minat
Minat
baca ialah keinginan yang kuat disertai usaha-usaha seseorang untuk membaca.
Orang yang mempunyai minat membaca yang kuat akan diwujudkannya dalam
kesediaannya untuk mendapat bahan bacaan dan kemudian membacanya atas
kesadarannya sendiri. Frymeir (dalam Crawley dan Mountain,1995)
mengidentifikasi enam faktor yang mempengaruhi perkembangan minat anak, antara
lain:
1)
Pengalaman
sebelumnya yaitu siswa tidak akan mengembangkan minatnya terhadap sesuatu jika
mereka belum pernah mengalaminya.
2)
Konsepsinya
tentang diri yaitu siswa akan menerima
jika informasi itu dipandang berguna dan membantu meningkatkan dirinya.
3)
Nilai-nilai yaitu
minat siswa timbul jika sebuah mata pelajaran disajikan oleh orang yang
berwibawa.
4)
Mata pelajaran
yang bermakna yaitu informasi yang mudah dipahami oleh anak akan menarik
minat mereka.
5)
Tingkat
keterlibatkan tekanan yaitu jika siswa merasa dirinya mempunyai beberapa
tingkat pilihan dan kurang tekanan, minat membaca mereka mungkin akan lebih
tinggi.
6)
Kekompleksitasan
materi pelajaran yaitu siswa yang lebih mampu secara intelektual dan fleksibel
secara psikologis lebih tertarik kepada hal yang lebih kompleks.
Dapat disimpulkan bahwa siswa yang mempunyai
motivasi yang tinggi terhadap membaca, akan mempunyai minat yang tinggi pula
terhadap kegiatan membaca.
c.
Kematangan Emosi dan Sosial serta
Penyesuaian Diri
Ada
tiga aspek kematangan emosi dan sosial,yaitu stabilitas emosi, kepercayaan
diri, dan kemampuan berpartisipasi dalam kelompok. Seorang siswa harus
mempunyai pengontrolan emosi pada tingkat tertentu. Anak- anak yang mudah
marah, menangis, dan bereaksi secara berlebihan ketika mereka tidak mendapatkan
sesuatu, atau menarik diri, atau mendongkol akan mendapat kesulitan dalam
pelajaran membaca.
Menurut Harris dan Sipay (1980) program
yang yang bertujuan untuk membantu siswa dalam membantu kemampuan belajar
membaca dan meningkatkan rasa harga diri (self esteem) terdiri dari empat aspek
utama,yakni sebagai berikut:
1) Pembaca
yang lemah (poor reader) harus dibantu agar dia merasakan bahwa dia disukai,
dihargai, dan dipahami.
2) Pengalamannya
tentang keberhasilan mengerjakan tugas harus dirasakannya sebagai suatu
kemampuan.
3) Anak-anak
yang berusaha dengan semangat harus diberi dorongan untuk mencapainya dengan
menggunakan bahan bacaan yang menarik.
4) Siswa
bisa dilibatkan dalam menganalisis masalah yang
mereka temui dalam membaca, kemudian merencanakan kegiatan-kegiatan
membaca, dan menilai kemajuan membaca mereka.
F. Strategi-strategi Pemahaman Bacaan
Strategi adalah ilmu dan kiat di
dalam memanfaatkan segala sumber yang dimiliki dan/atau yang dapat dikerahkan
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Berikut ini adalah macam-macam strategi pemahaman bacaan:
1.
Strategi
bawah-atas
Dalam
strategi bawah-atas membaca memulai proses pemahaman teks dari tataran
kebahasaan yang paling rendah menuju ke yang tinggi. Strategi pemahaman
bawah-atas umumnya digunakan dalam pembelajaran membaca awal dengan menggunakan
strategi memperkenalkan nama dan bentuk huruf kepada siswa, memperkenalkan huruf
menjadi suku kata, suku kata menjadi kata dan kata menjadi kalimat gabungan- gabungan.
2.
Strategi
atas-bawah
Strategi atas-bawah adalah proses
pemahaman teks dari tataran yang lebih tinggi ke rendah. Dalam hal ini, pembaca
mulai dengan prediksi, kemudian mencari input untuk mendapatkan informasi yang
cocok dalam teks (Long & Richars, 1987).
3.
Strategi
campuran
Strategi campuran adalah proses
pemahaman teks dengan menggunakan model bawah-atas dan atas-bawah yang bisa
digunakan dalam waktu yang bersamaan.
4. Model
strategi interaktif
Model
strategi interaktif merupakan pemahaman suatu teks melalui proses interaktif
antara latar belakang pengetahuan membaca dan teks.
Menurut teori skema, suatu teks
hanya menyediakan arahan bagi pembaca dan pembaca seharusnya menemukan dan
membangun sendiri makna teks berdasarkan pengetahuan awal mereka.
5.
Strategi
KWL (Know-Want To Know-Learned)
Strategi KWL memberikan kepada siswa tujuan membaca dan
memberikan suatu peran aktif siswa sebelum, saat dan sesudah membaca.Terdapat
tiga langkah dasar strategi KWL yaitu:
Langkah I : apa yang saya
ketahui (K), merupakan kegiatan sumbang saran pengetahuan dan pengalaman
sebelumnya tentang topik.
Langkah II : what I want
to learn (W), guru menuntun siswa menyusun tujuan khusus membaca.
Langkah III: what I have learn
(L) terjadi setelah membaca.kegiatan ini merupakan tindak lanjut untuk
menentukan, memperluas, dan menemukan seperangkat tujuan membaca.
6.
Strategi
Kegiatan Membaca Langsung/KML Atau DRA Direct Reading (Aktifities)
Penggunaan strategi KML adalah untuk mengembangkan kemampuan membaca secara
komprehensif, membaca kritis, dan mengembangkan perolehan pengalaman siswa
berdasarkan bentuk dan isi bacaan secara eksentif. Adapun tahap pembelajarannya,
adalah sebagai berikut:
a.
Guru mengembangkan tujuan pembelajaran, membacakan
judul teks, bertanya jawab dengan siswa tentang hal-hal yang berkaitan dengan
judul bacaan sebagai pembangkitan pengalaman dan pengetahuan siswa secara
mengemukakan hal-hal pokok yang perlu di pahami siswa dalam membaca.
b.
Guru meminta siswa membaca dalam hati. Setelah siswa
membaca guru melakukan tanya jawab tentang isi bacaan. Pertanyaan tidak selalu
diikat oleh pertanyaan seperti yang ada dalam buku teks. Guru bisa menambahkan
pertanyaan sesuai dengan konteks kehidupan siswa maupun permasalahan lain yang
aktual.
c.
Guru memberikan tugas latihan yang ditujukan untuk
mengembangkan pemahaman dan ketrampilan siswa sejalan dengan kegiatan membaca
yang telah di lakukannya. Kegiatan itu bisa berupa menjelaskan makna kata-kata
sulit dengan menggunakan kamus, membuat ikhtisar bacaan, mempelajari penggunaan
struktur, ungkapan, dan peribahasa dalam bacaan.
7.
Strategi
SQ3R (Survei, Question, Read, Recite, Review)
Tujuan penggunaan strategi ini, untuk menentukan kebiasaan siswa
berkosentrasi dalam membaca, melatih kemampuan membaca cepat, melatih daya
peramalan berkenaan dengan isi bacaan, dan mengembangkan kemampuan membaca
kritis dan komperensif. Tahapan kegiatannya, adalah
a.
Tahap Persiapan yaitu guru meminta siswa membaca teks
secara cepat (survey). Setelah itu guru meminta siswa membuat pertanyaan
tentang bacaan (question). Pertanyaan dapat langsung memanfaatkan pertanyaan
pada tahap pra membaca. Tujuan pertanyaan ini, adalah untuk membentuk
kosentrasi siswa dan membangkitkan pengetahaun dan pengalaman awalnya.
b.
Proses membaca yaitu setelah membuat pertanyaan, siswa
melakukan kegiatan membaca (read). Sambil membaca, siswa membuat jawaban
pertanyaan dan catatan ringkas yang relevan (recite).
c.
Pasca membaca yaitu siswa melakukan review, misalnya
membahas kesesuaian pertanyaan dengan isi bacaan, maupun kegiatan lanjutan lain
yang secara kreatif bisa dikembangkan oleh guru.
8.
Strategi
Membaca-Tanya Jawab/MTJ atau Request (Reading-Question)
Strategi ini ditunjukan untuk mengembangkan kemampuan membaca komprehensif,
memahami alasan pengambilan kesimpulan isi bacaan, dan peramalan lanjut
berkenan dengan isi bacaan. Tahapan kegiatannya, adalah
a.
Guru menjelaskan tujuan pengajaran, problem yang harus
dipecahkan siswa, dan cara yang dilakukan siswa untuk memecahkan masalah.
b.
Guru dan siswa melakukan pemecahan masalah, misalnya
menemukan fakta, mendapat ide pokok, penggunaan ungkapan, pendapat yang tidak
relevan denga fakta, dan sebagainya. Untuk memecahkan masalah tersebut, guru
dan siswa melakukan kegiatan membaca paragraf pertama bacaan.
c.
Setelah membaca paragraf pertama bacaan, guru meminta
siswa meramalkan kemungkinan isi paragraf berikutnya. Guru dan siswa melakukan
kegiatan membaca dalam hati. Paragraf yang dibaca bisa satu paragraf atau lebih
bergantung pada kemungkinan waktu yang tersedia.
d.
Tahap terakhir, adalah tanya jawab dan pembahasan
jawaban pertanyaan.
9.
Strategi
Membaca Dan Berpikir Secara Langsung /MBL atau DRTA (Direct Reading Thinking Activities)
Tujuan penggunaan strategi ini adalah untuk melatih siswa berkonsentrasi
dan berpikir keras guna memahami isi bacaan secara serius. Adapun
langkah-langkah kegiatannya adalah:
a.
Guru meminta siswa membaca judul teks bacaan, apabila
mungkin siswa diminta memperhatikan gambar dan sub judul secara cepat. Setelah
itu guru bertanya pada siswa sebagai pembangkit prediksi dan penciptaan
konsentrasi saat membaca. Pertanyaan tersebut misalnya: apa kira-kira isi
paragraf selanjutnya? Mengapa kalian membuat pemikiran demikian?
b.
Guru meminta siswa untuk membaca dalam hati satu atau
dua paragraf bacaan dengan berkonsentrasi untuk menemukan kebenaran/kesalahan
peramalan yang dilakukan semula.
c.
Bagian lanjut bacaan yang belum dibaca/ditanyakan
ditutup dahulu dengan kertas. Setelah membaca dalam hati guru mengajukan
pertanyaan misalnya: apa kira-kira isi
paragraf selanjutnya? Mengapa kalian membuat pemikiran demikian?
d.
Langkah seperti tersebut diatas dilakukan sampai
dengan bacaan itu habis/selesai dibaca. Selanjutnya dapat dilakukan menjawab
pertanyaan tentang isi bacaan atau kegiatan yang lain.
10. Strategi Penghubungan Pertanyaan-Jawaban/PPJ
atau QAR (Questions-Answer Relationship)
Strategi ini digunakan untuk
mengembangkan kemampuan siswa dalam memperoleh berbagai informasi dari berbagai
sumber yang berkaitan dengan berbagai bidang. Pertanyaan dapat disusun oleh
guru atau dapat memanfaatkan daftar pertanyaan yang ada dalam bacaan. Adapun
jawabannya dapat diperoleh siswa melalui cara berikut:
a.
Menemukan kata atau kalimat dalam teks sebagai jawaban
dari pertanyaan. Contoh: siapa yang bertanggung jawab untuk menciptakan suasana
nyaman dikelas.
b.
Jawaban ada dalam teks tetapi harus
menghubung-hubungkan kata atau kalimat pada bagian-bagian yang berbeda. Contoh:
apa yang menyebabkan kelas kita menjadi juara lingkungan nyaman.
c.
Pemahaman isi
teks merupakan bahan penemuan jawaban, tetapi pemahaman tersebut berkaitan
dengan pemahaman yang tersirat. Dengan demikian untuk menjawab pertanyaan itu
diperlikan adanya hubungan dialogis antara pemahaman isi teks dengan pengalaman
dan pengetahuan pembaca. Contoh: bagaimana hubungan timbal balik antara
lingkungan alam dengan lingkungan kehidupan keluarga.
d.
Jawaban tidak dapat ditemukan dalam teks. Untuk
menemukan jawaban pertanyaan harus menghubung-hubungkan sesuatu yang dinyatakan
penulis, merefleksikan kembali berbagai pengalaman dan pengetahuan dengan
memanfaatkan berbagai sumber informasi. Contoh: mengapa sebagai ekosistem
lingkungan menentukan kehidupan organisme manusia, binatang dan tumbuhan?
Berdasarkan gambaran pilihan jenis pertanyaan
seperti diatas, maka tahap-tahap kegiatannya adalah sebagai berikut:
1)
Guru mengemukakan tujuan pembelajaran, masalah yang
harus dipecahkan siswa, dan cara yang perlu dilakukan siswa untuk memecahkan
masalah. Masalah yang dipecahkan siswa adalah memahami dan menjawab pertanyaan
dalam berbagai jenis dan tingkatannya.
2)
Siswa melakukan
kegitan membaca dalam hati. Setelah selesai kegitan membaca, dilakukan kegiatan
tanya jawab dan pembahasan.
3)
Pertanyaan yang penemuan jawabannya memerlukan
berbagai sumber dan berbagai kegiatan lain, misalnya pengamatan dan wawancara
diberikan dalam bentuk tugas untuk dilaporkan pada pertemuan berikutnya.
Pengerjaan tugas harus berkelompok.
11. Strategi pengelompokan dan pemetaan isi
bacaan/PPIB atau GMA (Group Mapping Activities)
Strategi ini bertujuan mengembangkan
kemampuan siswa dalam menyusun dan memahami bagan, mengelompokkan, memetakan
isi bacaan. Misalnya: bacaan cerita dan memetakan isi bacaan secara umum. Tahap
pembelajarannya adalah:
a.
Persiapan: guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan
kegiatan yang akan dilakukan oleh siswa, misalnya siswa diminta membuat diagram
plot cerita.
b.
Proses membaca: siswa membaca dalam hati tanpa
diinterupsi oleh guru dalam waktu yang ditentukan.
c.
Selanjutnya siswa diminta mengemukakan pemahaman isi
bacaan, misalnya plot dalam bentuk bagan. Berdasarkan bagan yang disusun, siswa
diminta mengemukakan satuan kelompok isinya secara lisan dan siswa lain diminta
menanggapi.
12. Strategi PQ4R (Preview,Question, Read,
Reflect, Recite, Review)
Strategi PQ4R merupakan salah
satu bagian strategi elaborasi, dan digunakan untuk membantu siswa mengingat
apa yang dibaca dengan tujuan untuk mempelajari sampai tuntas bab demi bab
suatu buku pelajaran.
Langkah-langkah
yang harus dilakukan dalam strategi PQ4R sebagai berikut:
a.
Preview : siswa
membaca selintas dengan cepat, dimulai membaca topic-topiknya, sub topik utama,
judul dan sub judul atau ringkasan pada akhir suatu bab. Ide pokoknya akan
menjadi inti pembahasan dalam bahan bacaan siswa sehingga akan memudahkan
memberi keseluruhan ide pokok.
b.
Question : mengajukan
pertanyaan-pertanyaan pada diri sendiri untuk setiap pasal yang ada pada bacaan
siswa. Awali pertanyaan dengan menggunakan kata apa, siapa, mengapa, dan
bagaimana, sehingga akan lebih hati-hati dan membantu siswa mengingat apa yang
dibaca dengan baik.
c.
Read: memberi
reaksi sebagai hasil pikir dari apa yang dibaca dengan menjawab semua
pertanyaan yang diajukan sebelumnya.
d.
Reflect: selama
membaca siswa tidak hanya cukup mengingat atau menghafal tetapi mengingat dan
memahami informasi yang dipresentasikan dengan cara:
1)
Menghubungkan informasi yang telah diketahui
2)
Mengaitkan topik dalam teks dengan konsep utama
3)
Memecahkan kontradiksi didalam informasi yang
disajikan
4)
Menggunakan materi itu untuk memecahkan masalah yang disimulasikan
5)
Recite yaitu menghubungkan
atau mengingat kembali informasi yang
telah dipelajari dengan menyatakan butir-butir penting dengan menyaring dan menanyakan serta menjawab pertanyaan yang ada, sehingga dapat memuat intisari
materi dan bacaan.
6)
Review yaitu menjawab intisari yang telah dibuat, mengulang
kembali seluruh isi bacaan dan menjawab
pertanyaan yang ada sekali lagi.
G. Teknik-teknik
Membaca
Pada
umumnya, untuk menemukan informasi fokus dengan efisien ada beberapa teknik
membaca yang digunakan, antara lain:
1.
Baca-pilih (selecting)
Teknik membaca ini dilakukan
dengan cara memilih bahan/bagian bacaan yang dianggap relevan dengan kebutuhan
pembacanya.
2.
Baca-lompat (skipping)
Teknik memebaca ini
dipakai untuk menemukan bagian bacaan relevan dengan kebutuhan pembacanya,
dilakukan dengan cara melompati bagian-bagian yang tidak diperlukan.
3. Baca-layap
(skimming)
Teknik
membaca ini merupakan membaca dengan cepat untuk mengetahui isi umum atau
bagian suatu bacaan (Rahim, 2007:52). Seseorang membaca layap jika ingin
membaca artikel di surat kabar dan majalah, kulit buku di toko buku (dilakukan
untuk membeli buku),dan buku-buku pustaka (seseorang bisa menemukannya pustaka
tersebut mempunyai informasi yang dibutuhkan).
4. Baca-tatap
(scanning)
Membaca tatap (scanning)
disebut juga membaca memindai (scanning) ialah membaca sangat cepat. Menurut Mikkulecky
& Jeffries (1998), membaca memindai penting untuk meningkatkan kemampuan
membaca. Membaca memindai umumnya digunakan untuk daftar isi buku atau majalah,
indeks dalam buku teks, jadwal, advertensi dalam surat kabar, buku petunjuk
telepon, dan kamus. Sebaliknya, membaca memindai tidak digunakan untuk membaca
cerita misteri, buku teks untuk suatu kursus yang penting,surat- surat penting
dari ahli hukum, denah untuk menemukan jalan pulang, pertanyaan tes, dan puisi
(Mikulecky & Jeffries, 1998).
H. Usaha-usaha untuk Meningkatkan Kegemaran Membaca
Kegemaran
membaca merupakan salah satu kunci keberhasilan seseorang dalam meraih ilmu
pengetahuan dan teknologi.Jika membaca merupakan suatu kebutuhan, sikap positif
terhadap membaca umumnya berkembang. Adapun usaha-usaha untuk meningkatkan
kegemaran membaca,sebagai beerikut:
1.
Tersedianya perpustakaan
yang dikelola dengan baik.
Terkait dengan
budaya membaca tidak lepas dengan adanya peran penting sebuah perpustakaan
terlebih di lingkungan sekolah. Sebuah perpustakaan harus memberikan pelayanan
dan manajemen yang baik dalam memberikan kebutuhan referensi siswa di sekolah.
Jika perpustakaan adalah sebuah produk maka dia harus menjamin kualitasnya
dengan baik dan disukai oleh konsumen dalam hal ini oleh pelajar. Pustakawan
juga harus cerdas dalam menganalisa koleksi buku apa yang di inginkan dan
disuka oleh pelajar jika perlu dilakukan penelitian atau request.
2.
Promosi gerakan gemar
membaca di lingkungan sekolah.
Setelah
poin pertama dilakukan maka selanjutnya dengan mempromosikan gerakan membaca di
lingkungan sekolah yang dapat dilakukan dengan cara bekerjasama dengan pihak
kepala sekolah bersama jajarannya. Akan lebih baik lagi jika kepala sekolah, guru,
dan staff sekolah menjadi orang pertama yang mengawali gerakan gemar membaca di
sekolahnya. Bisa juga membuat baliho atau spanduk di sekitar sekolah yang
berisi seruan rajin membaca misalnya “Kami
Ingin Pintar makanya Kami Suka Membaca” , Ingin jadi Juara dan Berprestasi ?
Rajinlah Membaca” begitu dan sejenisnya.
3.
Berikan penghargaan (hadiah)
untuk mereka yang rajin membaca.
Setelah poin pertama dan kedua lakukan, langkah
selanjutnya berikanlah hadiah untuk mereka yang rajin membaca. Caranya bisa
dilakukan dengan kerjasama antara pihak perpustakaan dan kepala sekolah melalui
kebijakan. Hadiah tersebut bisa diberikan misalnya untuk siswa paling sering
meminjam buku di perpustakaan. Namun perlu dicatat bahwa pemberian hadiah ini
juga harus dilihat bukan hanya pelajar yang hanya suka meminjam buku
perpustakaan saja tetapi harus dilihat prestasinya.
Ini
penting supaya pelajar tidak hanya mengejar supaya dapat hadiah kemudian mereka
hanya sering pinjam buku tapi tidak pernah membacanya. Jadi ada semacam
ketentuan berlaku disini bahwa yang mendapatkan hadiah adalah mereka yang rajin
meminjam buku yang kemudian diikuti dengan peningkatan prestasi setelah rajin
membaca. Jenis hadiah sendiri bisa dalam bentuk pulsa (yang disukai pelajar), uang
saku, dan sejenisnya yang pasti disukai siswa.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia mempunyai arti yang cukup penting yaitu dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia terutamanya adalah
membaca. Karena ketika siswa dibangku sekolah dasar, hal pertama yang harus
kita pelajari adalah membaca, kemudian akan dapat menulis juga menghitung serta
merangkai berbagai macam kalimat. Sehingga pada masa ini pembelajaran membaca
di sekolah dasar harus mengetahui
pembelajaran membaca, antara lain:
1. Pengertian
membaca
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan
serta dipergunakan oleh pembaca untuk
memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis
melalui media kata-kata/bahasa tulis (H.G. Tarigan, 1986:7).
2. Prinsip-prinsip
membaca
a.
Pemahaman merupakan proses konstruksi sosial
b.
Keseimbangan kemahiraksaraan merupakan kerangka kerja
yang membantu perkembangan pemahaman
c.
Guru membaca yang unggul memengaruhi belajar siswa
d.
Pembaca yang baik memegang peranan yang
strategis dan berperan aktif dalam proses membaca
e.
Membaca hendaknya terjadi dalam konteks
yang bermakna
f.
Siswa menemukan manfaat dari bertransaksi
dengan berbagai teks pada berbagai tingkat
g.
Perkembangan kosakata dan pengajaran
memengaruhi pemahaman membaca
h.
Pengikutsertaan merupakan faktor kunci
dalam proses pemahaman
i.
Strategi dan keterampilan pemahaman bisa
diajarkan
j.
Asesmen dinamis menginformasikan
pengajaran pemahaman.
3.
Tujuan membaca
a. Kesenangan
b. Menyempurnakan
membaca nyaring
c. Menggunakan
strategi tertentu
d. Memperbaharui
pengetahuannya tentang suatu topik
e. Mengaitkan
informasi baru dengan informasi yang telah diketahuinya
f.
Memperoleh informasi untuk laporan lisan
atau tertulis
g. Mengkonfirmasikan
atau menolak prediksi
h. Menampilkan
suatu eksperimen atau mengaplikasikan informasi yang diperoleh dari suatu teks
dalam beberapa cara lain dan mempelajari tentang struktur teks
i.
Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
spesifik (Blanton, dkk dan Irwin dalam Burns dkk, dalam Farida Rahim, 2007:
11).
4.
Komponen kegiatan membaca
a.
Proses Membaca
b.
Produk Membaca
5. Faktor-faktor
yang mempengaruhi kemampuan membaca
a. Faktor Fisiologis
b. Faktor Intelektual
c. Faktor Lingkungan
d. Faktor Psikologis
6. Srategi-strategi
membaca
a.
Strategi
bawah-atas
b.
Strategi
atas-bawah
c.
Strategi campuran
d.
Model strategi interaktif
e.
Strategi KWL (Know-Want To Know-Learned)
f. Strategi Kegiatan Membaca
Langsung/KML Atau DRA Direct Reading(Aktifities)
g.
Strategi
SQ3R (Survei, Question, Read, Recite, Review)
h.
Strategi
Membaca-Tanya Jawab/MTJ atau Request (Reading-Question)
i. Strategi Membaca Dan Berpikir Secara
Langsung /MBL atau DRTA (Direct Reading Thinking Activities)
j. Strategi
Penghubungan Pertanyaan-Jawaban/PPJ atau QAR (Questions-Answer Relationship)
k.
Strategi
pengelompokan dan pemetaan isi bacaan/PPIB atau GMA (Group Mapping Activities)
l. Strategi
PQ4R (Preview,Question, Read, Reflect, Recite, Review)
7.
Teknik-teknik membaca
a. Baca-pilih (selecting)
b. Baca-lompat
(skipping)
c. Baca-layap
(skimming)
8.
Usaha-usaha untuk meningkatkan kegemaran membaca
a. Tersedianya perpustakaan yang dikelola dengan baik
b.
Promosi gerakan gemar
membaca di lingkungan sekolah
c.
Berikan penghargaan (hadiah)
untuk mereka yang rajin membaca
Dengan
pembelajaran yang seperti itu maka kita
akan dapat membacakan karya-karya sastra secara tepat. Sastra juga sarana yang
diberikan untuk mengembangkan kreatifitas anak di dalam pembelajaran bahasa dan
sastra Indonesia.
B. Saran
Untuk meningkatkan pembelajaran
membaca bahasa Indonesia di sekolah dasar, kita sebagai calon guru sekolah
dasar hendaknya melatihkan peserta didik untuk berkomunikasi dengan berbagai
ragam bacaan dengan memberikan strategi-strategi pemahaman dan teknik- teknik membaca
dengan tepat. Dengan cara seperti itu akan menjadikan peserta didik menjadi memahami
dalam membaca dan menjadikan peserta didik kita gemar membaca.
DAFTAR PUSTAKA
Cox, C. 1999. Teacher Language Arts. Boston: Allyn and Bacon
Farida,
Rahim. 2007. Pengajaran Membaca di
Sekolah Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.
Indrawati.
2009. Model Pembelajaran Terpadu Di Sekolah Dasar. Jakarta: Pusat
Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan
Alam (PPPPTK IPA).
McLaughlin, M. Dan Allen, M. B. 2002. Guided Comprehension. Newark:
International Reading Association, Inc.
Vacca, R. T, Vacca, J. A. 1999. Content Area Reading: Literacy and Learning
Across the Curriculum. Boston: Addison-Wesley Educational Publishers.
http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2137371-komponen
membaca/,diakses 11 Desember 2012
http://the-ladunni.blogspot.com/2012/02/faktor-yang-mempengaruhi-kemampuan.html, diakses 11 Desember 2012










0 komentar:
Posting Komentar